Lapo Ni Tondongta

Posted: May 16, 2011 in Uncategorized

Postingan ini merupakan UAS dari pelajaran CI yaitu membahas bisnis model tentang perusahaan lokal yang siap go internasional.

Kali ini saya memilih untunk mengambil restorant medan atau tempat makan khas orang batak. Restoran tersebut bernama Lapo ni Tondongta. Pemiliknya adalah seorang yang sudah sangat tidak asing lagi di telinga kita, yaitu Victor Hutabrat. Yap, penyanyi terkenal itu. 

 

Saya ambil contoh ini karena menurut saya, restoran ini sudah selayaknya berada di pasar Internasional. Sudah selayaknya makanan ini tidak hanya diproduksi di Indonesia, mengapa demikian? Karena, menurut saya, tempat makan atau restoran batak ini sudah pasti menjual makanan yang sering di sebut “tidak halal” (dalam hal ini sebu saja b1 dan b2 atau dengan kata lain babi dan anjing). 

 

Di Indonesia, seharusnya pasarnya tidak lah terlalu banyak, tetapi pada kenyataannya, tempat makan ini termasuk salah satu tempat teramai yang sangat dinikmati oleh para penikmat kuliner. Lebih daripada itu, para turis dari berbagai mancanegara sering kali mencari tempat ini. Jelas mereka tidak memiliki aturan hala atau tidak halal, yang pasti mereka sangat menyukai makanan ini. Terlebih, mereka tidak pernah mencicipi makanan seperti ini di ujung dunia manapun. Kalaupun ada, mungkin hanya menu, tetapi bumbu dan cara masak yang berbeda membuat masakan batak di Lapo ni Tondongta terasa berbeda.

Value proposition

Dengan caranya tersendiri menghidangkan masakan dengan masakan ala “orang batak” yang dengan kata lain, biar bagaimanapun, hanya orang batak sendirilah yang mempunya cita rasa terhadap masakan-masakan asal medan ini.

Costumer

  1. Costumer relationship , dalam hal ini saya melihat bahwa menggunakan jaringan sosial atau membuat komunitas-komunitas baru disetiap daerah merupakan solusi terjitu.
  2. Costumer segment, dalam hal ini saya melihat bahwa si pelanggan ini sudah pasti bukan umat islam  dan biasanya orang batak sendiri dengan kalangan semua umur.
  3. Distribution chanel, sebut saja bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan luar yang ternama.

Ecosystem

  1. Core capabilities, memberikan cita rasa tersendiri yang di ambil dari warisanan turun temurun ini menjadi sangat berharga dengan kelangkaannya di dunia.
  2. Partner network, bekerja sama dengan pabrik minuman terkemuka di setiap negara tertentu.
  3. Key Resources, adalah menu makanan yang jarang ditemui untuk dimasak kecuali di luar lagi, satu lagi yang tidak kalah penting adalah si juru masak yang memiliki cita rasa tersendiri.
Revenue Streams
Kesejahteraan karyawannya pasti terbayarkan jika pasar Internasional sudah ditembus.
Conclusion
Kalau dilihat lebih jauh, usaha rumah makan ini lebih disukai oleh orang asing atau turis. Pelanggannya sebagian turis dan sebagiannya lagi orang batak atau orang pribumi yang non-muslim. Jadi, peluang untuk restoran ini berbicara banyak di kancah Internasional sudah sangat terbuka lebar. Saya yakin untuk hal ini. Semoga maju terus produk dalam negri. 
Inilah persembahan nya yang bikin ngiler…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s